Skip to main content

Menyesal Karena Kehilangan Keperawanan

Kamu masih perawan di usia 28 ? Atau kamu telah melepaskan keperawananmu di usia 17, kemudian merasa menyesal ? Biasanya, perasaan menyesal ini datang karna penilaian buruk masyarakat tentang keperawanan yang sering kamu dengar, tuntutan orang tua yang masih berfikiran kolot, atau putus dengan pacarmu. But believe me, menyesal adalah hal terburuk yang terjadi, lebih buruk daripada kehilangan keperawanan itu sendiri.

Saya bukan tipikal orang yang senang menilai orang dari penampilan, tetapi orang-orang di sekitar saya senang melakukannya. Penilaian seperti 'orang itu nakal karna selalu berpenampilan seksi, dia pasti sudah tidak perawan', atau 'wanita ini cerdas dan rajin ikut pengajian, tidak mungkin dia tidak perawan' acapkali berseliweran, menimbulkan  keabsurdan dalam menilai kesucian seseorang. Benarkah pria yang setiap minggu ke gereja tidak melakukan seks diluar nikah ? Benarkah wanita yang berpakain syar'i tidak pernah bertelanjang di hadapan pria ? Benarkah wanita yang setiap akhir pekan clubbing  tidak lagi perawan? Semua orang hanya menduga-duga dan tidak pernah tahu kebenarannya. Dan bagi saya, tidak ada yang perlu tahu tentang kebenarnya, keperawanan sangatlah sakral.

Keperawanan selalu identik dengan kesucian. Saya sendiri berpendapat suci tidak bisa dinilai dari keperawanan, ini terlalu dangkal dan naif. Karna, kualitas seseorang tidak hanya terletak di selangkangannya. Banyak hal baik dapat digali dari kepalanya, hikmah yang dipetik dari sikapnya. Seseorang yang mengabdikan hidupnya mengajar di sekolah, bekerja keras demi kesehatan hewan, berjuang demi kesetaraan gender, adalah orang yang suci, terlepas apakah dia perawan atau tidak.

Kamu berencana menjaga keperawanmu sampai akhirnya menikah, lanjutkanlah. That was great. Tapi, ketika kamu kehilangan keperawanan, karna paksaan, tergiur, atau atas kesadaran sendiri, janganlah menyesal. Tidak ada yang harus kamu sesali, atau kamu ingi terkubur dalam penyesalanmu sendiri?

Comments